Cerita Kita ( All About You )


           Namaku Gabriella Dinda, aku baru menginjak bangku SMA dan hari ini aku berpakaian rapih lengkap dengan atribut sekolah lamaku dan tentu saja atribut MOSnya. Ya sebagai anak baru lulus SMP dan mau masuk SMA, sekarang adalah masa MOS yang harus aku jalani sebagai murid baru di SMA Harapan, sekolahku saat ini. Hari ini acara MOS di sekolah tidak terlalu padat karena baru perkenalan dengan kakak-kakak OSIS, lingkungan sekolah, dan juga teman-teman baru. Aku adalah satu-satunya murid yang non-islam dikelas, awalnya memang agak riskan karena latar belakang sekolahku dulu adalah katolik dan sekarang aku berada di lingkungan yang mayoritas beragama muslim. Awalnya memang seperti itu tetapi anak-anak kelas dapat menerima aku dengan baik walau aku satu-satunya murid yang tidak memakai jilbab.

            Hampir semingguMasaOrientasiSiswabaru aku jalani, ada rasa kenyamanan dan keakraban yang tercipta semenjak MOS.Taksulit bagiku untuk menyesuaiakan diri dengan mereka karena mereka semua ramah dan mayoritas tak terkotak-kotak untuk berteman.Kegiatan Belajar Mengajar belum optimal jadi kami masih dibebaskan untuk mengenal lingkungan sekolah, maksudnya selama guru mata pelajaran belum masuk dan mengajar. Aku bersama teman sebangku kuInaberjalan-jalan untuk melihat lingkungan sekitar sekolah walau saat MOS kami  memang dibawa untuk berkeliling tapi rasanya belum puas.

“ ya ampun Na luas juga ya sekolahan kita ini ” sahutku saat kita ada di parkiran sekolah. Parkiran sekolahku terletak paling belakang gedung dan di situ sisa tanah yang tak dipakai untuk membangun bangunan masih luas sekali, dan ternyata itu sengaja untuk membuat kebun sekolah untuk tiap kelas.

“ ia Din, luas banget apa lagi parkirannya tapi sayang agak becek nih tempat parkir kalau ujan “Inamemberi argument.

“ iya bener, ya semoga nanti sekolah memperbaikinya “

“ amiiinnn “Inameng-amini segera dan mereka segera bergegas masuk kelas takut ada pengumuman.

             Saat – saat inilah yang membuat ku senang untuk berangkat ke sekolah dan senang menjadi anak SMA. Taukah kamu apa yang membuat seseorang meresa waktu akan cepat sekali berlalu ?? Menurutku ketika kita jatuh cinta. Ya sekarang aku sedang mengalami hal itu, falling in love kata orang-orang bule. Aku tak tau kapan rasa ini muncul padahal waktu aku matrikulasi ( pengenalan pelajaran )  dan sekelas dengannya rasanya belum ada rasa ini, malah aku takut saat melihatnya. Mungkin karena badannya tinggi, besar dan kulitnya agak hitam makannya aku takut melihatnya. Tapi benar kata pepatah don’t judge a someone by the cover. Entah apa yang membuatnya menarik dimataku, mungkin kepribadiannya saat dia memipin sebagai ketua kelas.MemangAri telah menarik perhatianku, tapi tidak denganku ternyata dia sudah punya seorang kekasih. Rasanya memang nyesek banget saat kamu tau orang yang kamu sukai sudah mempunyai seorang pacar.  Tapi aku terima itu dengan lapang dada toh enggak ada yang tahu bahwa Gabriela Dinda menyukai sang ketua kelas Arian Rizky.  Aku mencoba dekat dengan teman satu kompleknya tidak begitu susah bagiku untuk dekat dengan temennya ini karena dia juga teman sekalas kami. Aku memang terbiasa menyembunyikan perasaanku terhadap orang yang ku sukai entah kenapa tapi aku lebih nyaman begini walau memang sangat makan hati untuk hal itu. Tapi satu hal yang kusadari dunia kita berbeda 180˚. Aku adalah anak rumahan dan dia anak gaul, tempat tongkrongannya pun baru aku datengi bersama dia dan teman-temannya walau aku sudah sering dengar temapat itu, tapi sungguh aku benar-benar baru main ke tempat itu. Tapi justru itu mungkin yang membuatku tertarik dengan Ari dia tidak terkotak-kotak untuk berteman dengan orang lain.

              Aku memang selalu memaksakan nongkrong bareng mereka walau aku makan hati karena aku tidak mengenal seseorang, selain mereka teman sekelasku dan Ari. Terkadang mereka membicarakan seseorang yang tidak ku ketahui atau hal apa pun yang hanya bisa membuatku diam dan meminum minumanku that’s all. Selebihnya mungkin mereka terlarut dengan topik pembicaraan mereka dan aku pun seperti obat nyamuk, tapi terkadang hanya ada kami tanpa ada banyak teman mereka dan aku suka saat-saat itu karena aku tidak lagi menjadi obat nyamuk. Aku bertingkah laku seperti itu karena aku tidak mau kehilangan momen bersamanya, hanya itu karena saat bersamanya waktu seakan cepat sekali berlalu. 

             Aku dikelas menjabat sebagai MPK( Musyawarah Perwakilan Kelas ) kelas dan saat aku memberikan informasi penting di depan kelas, aku sering dibuat marah, kesal dan bahkan menangis di depan kelas oleh perbutan teman-teman cowok ku yang berada di belakang karena mereka ribut, mungkin aku terlalu cengeng untuk hal itu dan aku akui bahwa aku orang sangat sensitive . Tapi ada satu hal yang sangat aku syukuri sebagai MPK kelas yaitu aku bisa dekat dengan Ari.

             Dia pernah membantu ku membuat poster saat aku mendapat sanksi karena aku menyontek saat ujian tengah semester. Saat itu entah pada hari keberapa pelaksanaan ujian dilaksanakan dan entah aku sedang kerasukan apa aku memberanikan diri untuk membuka internet dan kau tau tempat duduk ku dimana ? di depan meja pengawas. Aku juga tidak tau kalau sampe senekat itu tindakkan ku padahal sebelumnya aku tidak pernah melakukannya dan sialnya aku baru pertama kali melakukan langsung ketahuan dan mulai sejak saat itu aku mengutuk tindakan bodohku. Dankau tau apa ? aku langsung menangis sejadi-jadinya setelah menyelesaikan ulangan dan mendapat teguran dari pengawas. Dansaat itu aku hanya memberinya uang limabelas ribu rupiah untuk membuatkan poster, ternyata uang yang kuberikan kurang dia kebingungan karena dia juga tidak punya uang lebih untuk menambahinya akhirnya dia mengirimkanku sebuah pesan singkat sebanyak empat buah dengan tiga jumlah misscalled isi smsnya pada intinya dia tidak mempunyai uang lebih untuk menambahinya. Dan kau tau apa aku baru melihatnya setelah setengah jam dia mengirimiku sms dan saat aku menjawab smsnya dia membalas “ yah kenapa baru bales Din, gue sama Rio nggak punya uang lebih untuk nambahin L “ dengan emotion yang sedih dan itu yang membuatku tersenyum entah mengapa aku senang kalau dia bersikap seperti itu. Akhirnya dia danRio memutuskan untuk kerumah ku dan dia ternyata sudah berada di daerah sekitar rumahku sejak tadi, tapi dia tidak tahu persis dimana rumahku. Ya memang saat kejadian itu Ari tidak mengetahui rumahku. Aku menunggunya di ujung gang rumahku dan tertanyata dia danRio sudah berada disekitar situ. Akhirnya aku memberikan uang kekurangaannya dan aku pun mengobrol sebentar dengan mereka dan mereka pergi kembali ke toko percetakan itu. Itu point plus dia yang lain setia kawan. 

              Suatu saat, sekolah memberi peraturan untuk tidak memakai sepatu di dalam kelas. Awalnya semua murid kelasku mematuhi. Tetapi ada dua orang temenku yang melanggar, mereka berdua sudah memakai sepatu saat mau pulang sekolah di dalam kelas. Temanku yang bertugas sebagai Sei Kebersihan sudah sering melihat hal itu dan dia pun selalu melaporkan hal itu terhadap ketua kelas Ari. Ari sebagai ketua kelas sudah bosan mendengar pengaduan itu dan akhirnya melabrak mereka berdua di depan anak sekelas. Mereka berdua memang agak menyebalkan menurut teman sekelas dan pendapat pribadiku, tapi apakah pantas seorang perempuan dilabrak dan dipojokan seperti itu di depan umum. Aku segera menenangkan Ari agar dia colling down tapi perkataanku tidak disetujui oleh salah seorang teman sekelasku yang lain menurutnya Ari tidak kelewatan bersikap seperti itu. Tapi tidak menurutku, aku membayangkan kalau aku diposisi mereka pasti rasanya tidak enak. Sampai akhirnya setetes air mengalir dari mataku dan aku duduk di lantai membenamkan kepalaku.

            “ ya ampun Din udah enggak usah nangis “  Titi teman dekat Ari menenangkan

            “ tapi Ti kasian tau dipojokin di depan anak sekelas kayak gitu” jawabku saat Titi memelukku untuk menenangkanku.

Saat itu aku tidak melihat lagi ekspresi Ari karena aku membelakanginya dan aku hanya mendengar.

            “ ya udah kalian berdua jangan pulang dulu ntar gue pengen ngomong sama kalian empat mata ”

Hanya itu yang kudengar setelah Ari, melihatku menangis tapi sempat aku menoleh sedikit kearahnya dia melihatku sedang menangis dan langsung berkata seperti itu. Itu yang membuatku semakin suka terhadapnya dia tak ingin melihat seorang cewek atau orang lain menangis karenanya.

Danseperti kebiasaannya setiap ada masalah dengan anak kelas dia selalu berusaha ngomong face to face dengan yang bersangkutan.Dansaat ia tengah berbicara dengan mereka berdua ku lihat kedua kupingnya memerah entahlah saat itu dia menahan emosi atau emang seperti itu aku tidak tahu pasti. Yang kurasakan pasti bahwa dia sedang benar-benar menahan semua luapan emosinya supaya tidah memuncar dan meluap kepada kedua temanku karena mereka cewek dan aku sudah menangis untuk membela mereka, katanya juga seperti itu “ Dinda juga udah sampai nangis untuk ngebelain kalian” ya kalimat itu hanya kalimat itu saja sudah membuat hatiku berbunga-bunga.

            Aku selalu meperhatikannya setiap tingkah lakunya. Dia selalu mendengarkan music dan memukul-mukul pahanya sesuai irama lagu seakan pahanya adalah drum, dia memang pemain drum. Aku pernah sangat terkejut ketika melihat dia menangis aku tahu saat itu dia sudah putus dengan ceweknya dan dia sedang ada masalah dengan keluarganya. Aku ingin sekali membantunya tapi aku tau seberapa besar kapasitasku sebagai seorang teman yang baru dia kenal selama kelas sepuluh.

Suatu hari di hari sabtu temanku yang bernama Tata ingin ke serang melihat adeknya sedang berlomba paskriba, saat itu Ari, Didi, Tata dan pacarnya sudah merencankan bahwa mereka akan ke serang untuk melihat adenya Tata berlomba tapi Tata tidak mau kalau dia hanya perempuan sendiri, aku yang mempunyai niat ke gereja karena memang gereja ku di serang mencoba untuk bergabung dengan mereka dan lebih niat agar aku punya waktu yang lebih untuk dekat dengan Ari. Lombanya mulai pada pukul 16:00 WIB sedangkan gereja ku mulai ibadat pukul 17:30 WIB jadi aku bisa lihat lombanya sebentar pikirku. Tapi memang cuaca dari siang sudah mendung alhasil keberangkatan kita pun ngaret karena langit sudah mulai menangis, tadinya kita tapi lebih ke aku dan Ari tidak ikut pertama dengan alasan hujan kedua motor, kita dari cilegon ke serang menggunakan motor entah seberapa pegal itu dan alasan yang ketiga adalah alasanku yaitu Ari yang ikut jadi aku membuat alasan yang mengada-ngada terhadap mereka agar mereka tak tahu alasanku yang sebenarnya. Tapi semua alasan itu tinggal alasan pertama langitnya sudah mulai terang, kedua teman sekelas kita yang satu komplek dengan Ari bersedia meminjamkan motornya dan yang ketiga Ari jadi ikut dan aku pun ikut.

“ gue bareng siapa nih? “ aku berkata seperti itu karena aku sungguh tak tahu aku dengan siapa tapi aku lebih berharap aku dibonceng oleh Ari.

“lo mau sama gue Din, ok kita ngebut ya ?’’ Ari menawarkan diri, tapi mendengar kalimat terakhirnya aku mengurung niatku dan akhirnya aku bersama Didi.

            Dalam perjalana cilegon-serang ternyata langitnya menangis lagi alhasil kami pun hujan-hujanan karena tidak ada tempat berteduh sepanjang perjalanan. Kami sampai di serang jamlimalewat dan aku memutuskan untuk tidak jadi ke geraja karena mereka tidak akan keburu untuk mengantarku ke gereja. Saat kami sampai ternyata lombanya belum dimulai dan kami pun memutuskan mencari tempat duduk untuk melihat lombanya berlangsung, saat kami ingin mencari tempat duduk kami melewati kantin dan kau tau apa aku tergoda dengan aroma baso di kantin itu. Aku sangat sangat lapar saat itu.

            “hmmm, Ri asli baunya menggoda banget nih, beliyuk” kataku kepada Ari, memang dari pagi perutku ini belum diisi dan rasanya sudah melilit dan perih.

            “ nantinya aja Din, lombanya udah mau mulai ntar nggak bisa liat lagi” kata Ari, dan aku pun mengalah dan menonton lombanya.

            Setelah adenya Tata selesai tampil kami memutuskan untuk pulang dan mencari makanan karena aku sudah benar-benar lapar. Aku berbicara pada Didi bahwa aku ingin baso tapi jangan bilang yang lain karena Ari kurang suka dengan baso dan aku juga tidak mau merepotkan yang lain, kau tau saat kami makan aku sama sekali tidak nafsu makan dan disitu Ari memaksa ku makan “Din, ayo sih makan kalau enggak gue ke jalan nih biar ditabrak mobil” katanya sambil memasang tampang memelas, “ya udah sono, kayak berani” kataku sambil tersenyum , “yah elo mah” katanya lagi. Kau tau aku tertawa karena melihat ekspresi mukanya yang lucu dan saat kami makan ternyata ada seorang waria dan Ari sangat takut dengan waria itu, akhirnya dia kabur dan aku pun tertawa terbahak-bahak lagi. Setelah selesai kami pun pulang dan aku pun baru tau kalau Ari yang meneraktir kami semua dan plus lagi buat Ari gentle.

            Senin pagi saat jam pelajaran ke tiga tiba-tiba Ari berkata.

“ Din, kemarin kenapa lo nggak bilang kalau lo pengen baso ?”

“ha?tau dari mana?” kataku agak kaget dan heran.

“kan, gue setengah dukun, hhaaaaa” katanya sambil tertawa.

“alah, paling dari Didi, iya kan?‼ kataku, ember emang tuh anak gerutuku dalam hati.

“hheeee, iya emang, kenapa lo ga bilangkanbisa nyari baso kemarin ?”

“ya guenya ga enak lagian lo enggak suka baso kan ? masa iya gue makan baso sendirian” kataku mencoba membela diri.

               Hari demi hari berlalu tak terasa bahwa semester satu telah berakhir dan kami telah selesai dengan segala ulangan teori dan praktek, hasil sudah kami dapatkan dan rankingku tidak terlalu buruk untuk UAS (Ujian Akhir Semester ) sekarang dan yang pasti aku tidak menyontek dengan handphone lagi. Liburan semester datang, itu artinya aku tidak bisa melihat Ari dalam waktu yang cukup lama yaitu tiga minggu. Waktu liburan aku habiskan di Jakarta tempat bude ( sebutan orang jawa untuk kakak perempuan dari orangtua) ku tinggal, begitu juga saat tahun baru aku berada di Jakarta aku tak pernah tahu bahwa berita buruk itu datang karena handphone ku lowbat dan aku tidak men-chargenya dua hari. Handphone ku, ku biarkan mati begitu saja dan aku tak pernah tau berita itu.

              Saat masuk sekolah saat dimana waktu yang aku tunggu tiba, aku mendapati kenyataan bahwa aku sudah tidak bisa melihat Ari di sekolah lagi dan di Cilegon karena dia dan keluarganya sudah pindah ke Jakartaentah apa yang menyebabkan dia pindah aku tak tahu. Yang aku tahu pasti aku akan merindukannya. Teman-teman sekelasku juga sedih mendengar berita itu, dan mereka mulai berkata-kata “ pantes aja si Ari mgucapin selamat tahun baru tapi dia bilang sampai ketemu tahun depan, padahalkan waktu itu udah tahun baru” aku heran karena cuma aku yang tak tahu “ eh, serius kok aku nggak ya ? padahal kalian semua di smsin, apa karena waktu itu handphone ku mati jadi aku nggak nerima ?” “iya mungkin itu sebabnya makannya kamu nggak nerima?!” kata salah satu temanku. Aku mulai mengutuk tindakan bodoh itu karena itu artinya Ari pamit tapi aku tidak tahu, aku sangat-sangat menyesal dan sedih saat itu.

             Semester dua aku jalani tanpa sang ketua kelas Arian Rizky karena dia telah pindah. Kau tau kehidupanku di sekolah berubah 180˚ setelah Ari pergi. Aku mengurangi bergaul dengan teman-teman Ari di kelas karena aku memang sudah tidak srek mengikuti pergaulan mereka karena dunia kami memang jauh berbeda.Adaatau pun tidak adanya Ari aku bertekat bahwa semester dua ini aku tidak mau memaksakan bergaul dengan mereka lagi.

               Suatu hari aku mulai memberanikan diri bercerita terhadap teman sebangkuku Inabahawa aku suka terhadap Ari. Dankau tau apa ? aku mendapatkan berita yang mengejutkan yaitu bahwa Ari suka terhadap Ina. Disitu sungguh aku amat terkejut dan berarti benar feeling ku selama ini bahwa Ari memang punya rasa yang berbeda terhadap Ina. Tapi aku tetap kekeh untuk suka pada Ari karena Inapun tak pernah menanggapi Ari, Inasudah mempunyai pilihan hati yang lain. Aku hanya bisa berkomunikasi dengan Ari lewat jejaring sosial Facebook, ya hanya itu yang dapat menghubungkan kami karena dia telah mengganti nomor handphonenya dan hanya teman-teman terdekatnya yang tahu nomor barunya.

Saat liburan kenaikan kelas tiba, kerjaanku hanya bermain Facebook  dan kau tau apa ? tiba-tiba Ari mengirimiku wall atau pesan dinding “Din, menurut lo gue orangnya gimana ?” aku benar-benar senang saat itu, karena itu kali pertama dia yang mengirimi wall duluan kepadaku. “ mau yang bagus duluan apa yang jelek duluan ?” aku membalas pesan dindingnya “ ya yang baik aja duluan yang jelek sms aja “ balasnya, ya saat ini aku telah memiliki nomornya dari Ina. Setelah itu aku langsung off dan ketika itu juga hape ku berbunyi menjeritkan I’m yoursnya Jason Mraz dan kau tau itu dari siapa ? dari Ari “ Din, sikap buruk gue apaan ?” ku kira dia hanya basa-basi tadi tapi ternyata aku salah dia benar-benar membahasnya di sms. Dari situ aku dekat lagi dengan Ari dia sering mengirimi aku pesan singkat sekerdar menanyakan kabar atau membahas sekolahnya sekarang. Kami pernah berjanji untuk berkeliling Cilegon bersama untuk menemaniku mengetahui setiap jalan di Cilegon, karena sudah 16 tahun aku di cilegon tak pernah tahu sudut-sudut kota cilegon, “iya nanti gue temenin lo jalan-jalan muterin Cilegon” katanya waktu itu. Atau Ari memention ku “sombong nggak bales sms” dengan user name namaku kalau aku tak membalas smsnya saat kebetulan aku sedang online dan debat kartu perdana siapa yang paling bagus dan dia menyuruhku mengganti kartu perdana sepertinya agar tidak boros pulsa. Suatu hari aku pun bercerita kepada Ina dan Ica bahwa aku sekarang smsan dengan Ari dan kau tau apa tanggapan Ica “ gini Din, aku bukannya nggak seneng kalau kamu deket sama Ari tapi aku nggak mau kamu punya harapan  lebih sama dia, karena harapan kosong itu sakit loh Din, aku udah pernah ngalamin”.Ica sudah mewanti-wantiku sejak awal agar aku jangan terlalu berharap pada Ari karena kalau terlalu berharap nanti akan makan ati sendiri. Aku juga sudah menjaga hati ku agar tidak terlalu ke geeran tapi apa daya aku tak mampu melakukannya aku punya harapan lebih terhadapnya.

Sebulan telah berlalu aku memang masih smsan dengan Ari tapi sekarang intensitasnya sudah berkurang tak sesering dua minggu pertama. Makin lama perasaanku semakin dalam terhadap Ari, tapi aku tidak tahu dengan Ari karena rasa yang kurasakan saat ini cuma secara sepihak yaitu hanya dari ku. Makin lama aku jarang bersmsan dengan Ari mungkin sudah ada tiga minggu aku tidak smsan dengannya, kau bayangkan tiga minggu aku tak tahu kabarnya ?‼! aku sakarang hanya dapat memantaunya lewat Facebook  dan Twitter.

Suatu hari Ica memberitahuku sesuatu “ Din, sekarang Ari lagi deket loh sama cewek namanya Maya, kamu tahu ?” aku syok karena benar selama ini dugaanku saat memantaunya lewat twitter. “iya Ca aku tahu, aku sering liat dia mention-mentionan sama Maya” . Hancur sudah harapanku selama ini, aku merasa seperti keledai dan lebih bodoh dari keledai karena keledai tidak akan jatuh kelubang yang sama seperti ku. Tapi aku bersyukur aku telah mengenalmu sebagai sahabatku karena kau telah mengajariku sesuatu dari cerita kita, cerita kau dan aku Ari, yaitu setia kawan. Kau juga telah mengajariku untuk lebih dewasa dan kuat lagi untuk menghadapi orang seperti kamu, agar aku tidak jatuh cinta kedua kalinya terhadap mu dan Ari Ari lainnya.

 

 

 

 

Iklan
Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: