Refleksi


                                                                              Kaktus dan Semut

 

Dahulu hidup sebuah tanaman bernama kaktus. Dia hidup di tanah yang gersang dan tak ada yang mau berteman dengannya karena duri-duri yang dimiliki sikaktus. Kaktus merasa sedih mengapa ia harus mempunyai duri-duri di tubuhnya. Pada suatu hari ada seekor semut semut sedang mencari makan. Semut itu berkata ” Hei mengapa mukamu nampak sedih begitu ?” tanya semut pada kaktus. “Iya, aku sedih karena tidak ada yang mau berteman denganku karena duri yang aku miliki menyakiti mereka” jawab kaktus. ” Oh,karena itu kau sedih ? Jangan khawatir aku mau kok berteman dengan kamu” kata si semut. ” Jangan-jangan kau tidak boleh berteman dengan ku, nanti kau bisa aku sakiti ! ” tolak kaktus. ” Tenang, saja tubuh ku ini kan kecil, jadi aku bisa memanjat duri-duri mu itu! ” semut menenangkan.

Sejak saat itu tidak ada lagi wajah sedih atau murung dari air muka kaktus, kini yang ada hanya wajah gembira, ceria, dan bahagia setipa hari. Si semut pun hampir datang setiap hari untuk mengunjungi si kaktus. Mereka selalu berbagi cerita bersama, hingga suatu hari di musim kemarau bencana kekeringan pun melanda. Hampir semua makhluk hidup hampir mati kehausan. Tapi tidak dengan si kaktus, ia dapat menyimpan cadangan air dalam tubuhnya. Saat semut berkunjung, ia terlihat lemah dan lesu. ” Kau kenapa  semut ? ” tanya si kaktus dengan raut muka penuh khawatir. ” Persedian air ku sudah habis dan sekarang aku haus sekali ” jawab si semut. ” Di tubuhku ini banyak tersimpan cadangan air, kalau kau ingin minum cabutlah salah satu dari duri-duri ku ini ” kata si kaktus. Dan segeralah si semut mencabut salah satu duri dari tubuh si kaktus. 

Beberapa minggu sudah musim kemarau melanda, si semut bertahan hidup dengan dengan cara membagi dua cadangan air yang ada pada tubuh kaktus. Hingga suatu hari saat si semut berkunjung, betapa terkejutnya dia saat si kaktus mulai lesu dan kecoklat-coklatan. ” Tak usah kau hiraukan aku, mungkin sudah saatnya aku mati. Ini di dalam tubuhku ini masih ada sisa cadangan air untuk mu bertahan hingga musim kemarau berakhir. Dulu aku berpikir, kenapa Tuhan harus menciptakan banyak duri di tubuh ku, namun sekarang aku tahu bahwa Ia mempunyai maksud untuk segala sesuatunya. Tidak ada yang sia-sia dan terbuang dari segala ciptaan Tuhan. Kamu yang telah menyadarkan aku betapa berartinya dan bermaknanya aku ” kata si kaktus. Dan akhirnya kaktus pun mati.   

Iklan
Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: