Ayah, Mengapa ?


Areta gadis remaja yang selalu nampak ceria, bermata coklat dan memiliki rambut panjang terurai, tengah bersiap-siap untuk pergi sekolah. Duduk termangu di beranda menunggu temannya menjemput. Apa yang sedang di pikirkan gadis berusia 16 tahun itu ? Sekolahnya ? Teman-temannya ? Atau makanan apa yang akan dia makan di kantin saat jam istarahat ? Bukan, hal itu semua, melainkan ayahnya ya, ayah yang satu atap dengannya. Ayahnya yang sangat iya sayangi. Ayahnya yang sangat dekat dengannya namun menggoreskan luka yang samar dalam dirinya. Luka yang tidak pantas diterima atau di dapatkan oleh siapa pun. Pengkhianatan.

Pengkhiantan yang terlalu pedih, perih dan dalam untuk dirasakan. Ayahnya mencabangkan kasih sayang. Ayahnya mencabangkan janji yang terikar diantara beliau dan ibu Areta. Ayahnya berkhianat terhadap dia dan ibunya. Namun dia tak pernah sekali pun atau terlintas dalam pikirannya untuk membenci ayahnya, yang dia benci adalah pengkhianatan yang dilakukan ayahnya. Ya, bagaimana pun beliau tetap ayahnya yang sangat Areta sayangi. Areta lupa sejak kapan hal itu terjadi, entahlah pikirannya melayang berusaha mengingat pertama kali hal itu terjadi. Yang Areta ingat saat itu usianya 8 tahun, ya usia yang masih sangat dini untuk menerima hal ini. Ibu Areta memergoki isi sms suaminya itu dengan kata-kata mesra dari seorang PIL ( Perempuan Idaman Lain) dan perang mulut pun terjadi di depan mata Areta. Areta yang malang harus menerima peristiwa seperti itu diusia yang masih sangat dini.

Ayah, ini dari siapa ? Ayah ? ” tanya Ibu tak sabar
Salah sambung mungkin Bu ” jawab Ayah berusaha menenangkan
Gak mungkin di sini tertera nama Ayah, jadi, nggak mungkin salah sambung, Yah ” bantah Ibu berapi-api saat membaca sms yang terdapat pada handphone Ayah Areta. Saat istrinya terus membombardir dirinya dengan sejuta pertanyaan seperti seorang anak kecil yang ketahuan mencuri permen, Ayah Areta hanya diam seribu bahasa dan merasa bersalah. Ayah dan Ibu Areta tidak sehangat dulu lagi mereka berdua seperti menjalani kehidupan masing-masing dan larut dalam  tugas kantor yang menumpuk untuk melupakan kejadian itu. Namun, untunglah hal itu tidak berlangsung lama dan dalam waktu 3 hari suasana rumah Areta kembali seperti semula. Ayah dan Ibu Areta masing-masing saling maaf  dan memaafkan.

Areta kecil berfikir bahwa hal itu sudah cukup sekali saja terjadi namun nyata sudah dua kali terjadi ketika hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun. Tepat dua tahun setelah pertengkaran itu terjadi jadi perselisihan kembali, Ibu Areta memergoki isi sms suaminya dan seperti tahun kemarin pertengkaran mulut pun terjadi.

Ayah ! Ayah, belum cukup puas apa ? Setahun kemarin ? Dan sekarang terulang kembali ?! ” hardik Ibu Areta
” Apa maksud Ibu ? Ayah benar-benar nggak ngerti ?! ” 
jawab Ayah Areta bingung
Sudah, Ayah tidak usah berpura-pura nggak ngerti justru Ayahlah yang paling mengerti, apa yang Ayah lakukan kepada Ibu dan Areta ” bentak Ibu Areta suaranya menggelegar tidak dapat menahan emosinya lagi, ini sudah kedua kalinya suaminya mengkhianati dirinya.
Jelaskan kepada Ayah, apa maksud Ibu ? ” Ayah Areta masih tidak mengerti
Ini ! Apa ini Ayah ?! Siapa dia ? Salah kirim lagi ?! Tapi sms ini jelas-jelas untuk Ayah !!! ” Ibu Areta menunjukan isi smsnya
Eng…eng…i..ini..ini…memang salah kirim, Ayah nggak tau nomor ini ?!! ” jawab Ayah Areta gugup
Sudah, Ayah jangan mengelak lagi. Ibu sudah tau semuanya, Ibu sudah tau segala pengkhiantan yang Ayah  lakukan !!! Ayah pergi dari sini, pergi, pergi !!! ” bentak Ibu Areta berapi-api sambil melempari segala macam benda yang berada di dekat beliau.
Tidak banyak yang dapat dilakukan Ayah Areta dan saat memergoki putri kecilnya melihat semua kejadian itu, beliau mengelus lembut puncak kepala putrinya.
Jaga Ibu baik-baik ya Areta, Ayah pergi tapi nggak lama kok, sayang. Ayah janji semua akan kembali seperti semula ” terang Ayah Areta sambil terus mengelus kepala putri kecilnya dan menggendongnya ke kamar tidur.
Sekarang kamu tidur ya sayang, besok masih harus sekolah, kan ? ” tanya Areta sambil tersenyum dan menghapus air matanya sendiri dan putri kecilnya.
Semua akan baik-baik saja, ayah janji ” ucap Ayah Areta sambil mengecup kening Areta dan berlalu.
Berbeda dengan kejadian setahun lalu, Ayah Areta tidak pulang lebih dari seminggu dan suasana rumah sangatlah sepi benar-benar sepi hingga membuatnya merasa sendiri. Satu minggu ini Areta lewati tanpa semangat hidup begitu pula Ibunya, Ibunya seperti seonggok daging yang bernyawa namun tak berjiwa. Melakukan segala sesuatu seperti zombie dan sering melamun.
Dan seperti hujan badai yang usai dan menyisakan pelangi, kebahagian itu datang, Ayah Areta pulang dan orang tuanya sepakat untuk berbaikan demi Areta, demi masa depan dan kebahagiaan Areta. Namun, Areta tidak tahu bahwa tidak ada pelangi yang akan bertahan lama, semu.  Dan benar, Ayah tak pernah benar-benar jera untuk melakukan pengkhiantan kembali. Areta melamun memikirkan peristiwa beberapa tahun silam itu hingga tak sadar bahwa temannya sudah datang untuk berangkat bersama menuju sekolahnya.

Sepanjang perjalanan pikirannya melayang kembali pada pengkhianatan yang masih berlangsung saat ini. Sewaktu Areta duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, Areta menceritakan segala peristiwa dan rasa pedih yang ia rasakan selama bertahun-tahun kepada sahabat-sahabatnya, bukannya Areta ingin mengumbar aib tapi hanya ingin berbagi rasa pilu yang ia rasakan sendiri selama ini. Pernah sekali waktu Areta dan sahabat-sahabatnya mempunyai ide gila untuk menguak dimana letak rumah wanita yang menjadi idaman lain ayahnya. Namaun Areta melarang. “ Jangan ya papa itu orangnya curigaan kalau kita buntutin beliau pasti beliau curiga “ dengan segala resiko yang terjadi akhirnya mereka membatalkan niat tersebut.

Dalam setiap rapalan doa Areta selalu tersebut nama ayahnya
Mengapa ayah ? Apa yang salah ? Mengapa harus ayah ? Ada ibu yang sungguh sangat setia kepada ayah, ada ibu yang selalu mendampingi ayah saat suka dan duka ayah, kenapa harus ayah ? “ Areta hanya menangis dalam diam, meratapi nasibnya dan pengkhianatan yang terjadi pada Areta dan ibunya selama bertahun-tahun tanpa pernha ibunya ketahui. Areta hanya bisa mencurahkan isi hatinya pada Tuhannya, bebannya, lelahnya dan rasa sakit yang teramat. Karena Tuhannya Areta dapat bertahan, karena Tuhannya Areta masih dapat berpijak teguh pada bumi, karena pada Tuhannya, Areta percaya ada hari yang indah yang akan ada untuk ayah, ibu dan dirinya sendiri. Ya, Areta percaya bahwa Tuhannya telah merancang kebahagian yang sangat indah untuknya. Tuhannya tidak pernah terlalu cepat atau terlambat dalam menepati janji, semua akan indah pada waktunya. Areta harus merasakan berjuta-juta hujan dalam hidupnya sebelum ia dapat melihat pelangi yang paling indah dalam hidupnya.

Hari itu akan datang, hari dimana semuanya akan membaik, hari dimana Areta dapat merasakan hangat keluarga yang seutuhnya tanpa ayahnya diam-diam berbagi kasih sayang dengan orang lain.Hari dimana tidak ada kepalsuan dalam dirinya untuk selalu terlihat ceria dan bahagia namun tercabik habis di dalam. Dan sekarang, di sini Areta berpijak, SMAnya. Menatap lurus ke depan menyongsong hari yang cerah dan tetap percaya bahwa hari bahagia itu akan tiba, entah kapan. Kini dalam setiap perbincangannya dengan Tuhannya tidak pernah lagi ada keluh ” Ayah, mengapa?” karena telah ia serahkan seluruh luka dan beban pada Tuhannya. Percaya pada Tuhannya, tidak akan pernah ingkar janji.

teruntuk setiap luka dan setiap tetes air pilu
yang dirasakan seseorang dari  sebuah pengkhianatan.

Yasinta Dea E.

Iklan
Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: