Surat Kecil Untuk Pak Presiden


Yang terhormat Bapak Presiden,
Perkenalkan, saya adalah seorang pelajar yang sedang dalam kerisauan menunggu pengumuman tentang kelulusan SMA. Pak, saya hanya ingin bertanya mengapa kami sebagai penerus generasi bangsa harus diberikan momok UN sebagai tolak ukur untuk layak atau tidaknya kami lulus. Tidakah, itu tidak adil, Pak ? Kami bukan kelinci percobaan atau boneka. Yang tahu kami layak untuk lulus bukankah sekolah, sekolah yang tahu bagaimana keseharian kami, bagaimana kemampuan kami dan potensi kami, bukan UN. UN bagi saya dan mungkin bagi beberapa pelajar hanya sebagai momok, apalagi pada pelaksanaan UN tahun ini, kami sudah kalah Pak sebelum berperang, kami mati dini, mental kami. Yang saya lihat dan dengar dari berita-berita di TV pembelajaran di daerah luar Jawa sangat berbeda jauh dengan di dalam pulau Jawa, mereka tidak mendapat fasilitas yang layak untuk proses pembelajaran, tenaga pelajar kurang dan berbagai problem lainnya yang mengahambat proses belajar mengajar. Apakah itu adil jika semua disamaratakan dengan UN ? Kami dibebani oleh 20 paket soal dalam satu ruangan, sistematika pengisian LJUN yang menurut saya ribet, kertas LJUN yang tipis dan barcode soal yang bilamana terjadi kerusakan dalam pengisian LJUN kami, kami harus pula mengganti lembar soal dan juga paket C yang diadakan setelah UN utama selesai . Saya juga pernah menonton siaran berita yang memberitakan tentang beberapa pelajar tidak lulus UN, padahal dia termasuk dalam murid yang pintar ? Tidakah, akan terjadi pengangguran yang semakin melonjak setiap tahunnya Pak ? Pak, masa depan kami harus berakhir di sini bila kami tidak lulus UN ? Haruskah masa depan kami pupus, padahal kami belum memulai untuk mengembangkannya ? Haruskah kami begini, Pak ? Haruskah UN menjadi tolak ukur kami lulus ? Haruskah generasi penerus bangsa diberi momok seperti ini Pak ? Berapa banyak lagi kata haruskah Pak, agar impian dan masa depan kami dapat kami raih dan tidak berhenti dan tersedat di UN? Pak, maaf bila saya kurang ngajar dan tidak sopan, saya hanya ingin mengapresiasikan kerisauan hati saya yang menunggu pengumaman lulus SMA, yang sebelumnya harus saya lewati dengan mengikuti UN. Saya tidak tahu harus berkeluh kesah kepada siapa lagi perihal ini Pak. Terimakasih jika Bapak telah menyempatkan diri membaca surat dari saya, sekali lagi saya mohon maaf.

Iklan
Categories: Uncategorized | 2 Komentar

Navigasi pos

2 thoughts on “Surat Kecil Untuk Pak Presiden

  1. Keren, sangat setuju sekali saya apa yang kamu tulis pada postingan diatas itu… Sampai-sampai saya tidak bisa berkomentar apa-apa tentang post ini, dan
    Semoga untuk tahun depan dan seterusnya tidak ada yang namanya 20 soal berbeda dalam satu ruangan kelas. Amin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: